JOMBANG – Pelayanan kesehatan masyarakat di Badan Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit Daerah (Bapelkes RSD) Jombang disorot Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Jombang. Pasalnya, layanan kesehatan di RSD Jombang dinilai kurang maksimal kepada masyarakat.
Mengomentari hal ini, anggota Komisi D DPRD Kabupaten Jombang, Fadholi membenarkan, jika RSD Jombang masih kurang optimal dalam fungsinya sebagai pelayan kesehatan masyarakat. Terbukti, dari sejumlah ruang perawatan di RSD Jombang masih terlihat banyak pasien yang kurang mendapat perhatian.
“Seperti di ruang rawat inap Mawar, masih banyak pasien yang keleleran. Kalau nggak percaya, coba cek saja setiap jam 8 malam,” ujar Fadholi di ruangannya, Senin (24/11).
Anggota dewan dari Partai Golkar (PG) ini memastikan, jika setiap malam hampir merata di setiap ruangan hanya terdapat dua perawat saja. Dirinya juga menyesalkan, jika rumah sakit yang menelan biaya pengelolaan dari APBD itu tidak dapat memaksimalkan pelayanannya.
“Kita berikan anggaran untuk RSD Jombang itu Rp 40 M/tahun. Dan itu dikelola sebagai sarana melayani kesehatan masyarakat secara penuh dan tidak sembarangan seperti ini,” geram wakil rakyat yang siap mencalonkan kembali sebagai anggota legislatif lima tahun mendatang.
Lebih jauh Fadholi mengungkapkan, kondisi layanan yang diberikan oleh RSD Jombang belakangan ini sangat memprihatinkan. Ia mengatakan, sebenarnya RSD Jombang dapat meningkatkan pelayanan dengan dana puluhan milyar yang diambilkan dari APBD Jombang.
“Itu uang rakyat lho ? Dan angka sebesar itu diberikan utuh tiap tahun sejak 2006. Mestinya layanannya lebih ditingkatkan. Apalagi, rencana anggaran tahun 2009 akan dinaikkan lagi sebesar 15 % untuk RSD Jombang,” pinta Fadholi yang membawahi Dapil II untuk pencaleg-kan DPRD Jombang di Partai Golkar.
Sementara, seorang keluarga dari pasien di ruang Mawar mengatakan, pelayanan di RSD Jombang tidak seperti yang diharapkan. Padahal, dirinya mengaku, bersedia membayar segala kebutuhan termasuk administrasi pasien.
“Asalkan pelayanannya ditingkatkan, jangan seperti ini. Masak nggak malu dengan slogan, pelayanan prima kepada masyarakat ? Tapi mau gimana lagi, kita terima saja kondisi ini,” keluh lelaki yang enggan disebut namanya. tar