Fadholi, Caleg Jombang Dapil II Minta Keseriusan Pemkab
JOMBANG - Menyoal tingginya angka pengidap HIV/AIDS di Kabupaten Jombang, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) setempat menilai Pemkab Jombang kurang optimal dalam penanganan. Bukan hanya itu, ratusan juta anggaran APBD yang dialokasikan untuk penanganan dianggap belum dapat mengurangi dampak penyebaran virus HIV/AIDS di Kabupaten Jombang.
Menurut caleg Partai Golkar (PG) untuk Dapil II (Sumobito, Jogoroto dan Diwek) yang kini masih menjabat sebagai anggota Komisi D DPRD Kabupaten Jombang, Fadholi, keseriusan Pemkab terhadap penanggulangan HIV/AIDS masih sebatas wacana tanpa solusi. Fadholi menganggap, Pemkab Jombang belum berhasil memberikan pelayanan kepada masyarakat yang terindikasi HIV/AIDS.
“Karena masalah AIDS ini bukan main-main. Ini harus ditangani maksimal dan penuh perhatian ekstra. Dan Pemkab saya lihat belum serius untuk melakukan penanganan, terutama Dinkes dan rumah sakit. Buktinya jumlah pengidapnya terus naik,” jelas Fadholi dengan muka serius.
Fadholi yang mengaku concern terhadap persoalan kemasyarakatan, terutama kesehatan dan pendidikan ini mengatakan, selama ini pemerintah daerah setempat hanya mendata dan merangkum orang-orang yang terkena AIDS. Pemkab, masih kata Fadholi, terkesan hanya mencari muka tanpa ada jalan keluar dalam persoalan AIDS.
“Siapa yang nggak bisa kalau hanya untuk pangalembono (cari muka, red). Yang terpenting adalah bagaimana masyarakat yang terkena AIDS tidak dipungut biaya saat memeriksakan kondisinya,” tandas Fadholi di ruangan Komisi D, Rabu (03/12) kemarin.
Anggota dewan yang kini mencalonkan lagi di legislatif Jombang itu mencontohkan, tentang kondisi Orang Dengan HAIV/AIDS (ODHA) di Sumobito, Jombang. Ia mengaku merasa miris dengan ketidaksigapan Pemkab dan Dinkes setempat menanggulangi AIDS.
“Di Dusun Tulungrejo, Desa Segodorejo, Kecamatan Sumobito itu ada dua orang yang sudah meninggal dunia karena AIDS. Apalagi, istrinya orang yang terkena AIDS itu, sekarang mengandung jabang bayi. Saya yakin, dia tertular,” ingatnya.
Dikatakan Fadholi, sebenarnya tingkat perhatian dan pelayanan Pemkab terhadap ODHA sudah cukup maksimal. Namun, hal tersebut belum tampak upaya penyelesaian secara pembiayaannya.
“Bukan kita mau memanjakan, tapi setidaknya harus jemput bola. Sebab dikhawatirkan, penyakit yang kini belum ditemukan obatnya itu menular kepada masyarakat lainnya. Yang jelas tidak serius, buat apa anggaran ratusan juta itu,” tegas Fadholi.
Sementara itu, Igo, Koordinator Jombang Care Center (JCC) mengatakan, indikator keberhasilan dari penanganan AIDS bukan pada menurunnya angka pengidap, melainkan meningkatnya temuan kasus HIV/AIDS.
“Naiknya jumlah kasus HIV/AIDS bukan jadi indikator ketidakberhasilan. Fokusnya adalah mencari orang-orang untuk di tes HIV/AIDS. Jadi kasus HIV/AIDS meningkat bukan tidak berhasil,” kata Igo. tar